Langsung ke konten utama

SEJARAH PERKEMBANGAN BAHASA

 




  1. BAHASA MELAYU SEBAGAI LINGUA FRANCA

Mengapa dari semua bahasa di Kepulauan Indonesia-Malaysia, bahasa Melayu yang terangkat kedudukannya sebagai Lingua Franca?

 

Adapun timbulnya kebutuhan suatu Lingua Franca bagi suatu daerah, yang dikaruniai (atau dibebani) dengan begitu banyak bahasa, bukanlah hal yang mengherankan, khususnya karena kontak antara para penutur bahasa-bahasa ini dan bahasa-bahasa lain menjadi lebih sering, bersamaan dengan berkembangnya perdagangan antar pulau dan perdagangan luar negeri.

 

Bahasa Melayu mengisi peran tersebut adalah karena lokasinya yang strategis di kedua tepian pantai Selat Malaka, suatu daerah perairan sempit tempat perdagangan laut awal antara India dan Cina terpaksa berlalu-lalang, dan yang menyediakan suatu titik perhentian yang tepat untuk berlindung dari badai musiman atau untuk mengambil air dan makanan segar.

 

Selama menanti selesainya pengisian bekal tersebut, para pedagang (bangsa India, Cina, dan kemudian juga bangsa Arab) haruslah bergantung pada perdagangan dengan penduduk yang berbahasa Melayu untuk mencari bekal dan tentu saja memerlukan sarana untuk berkomunikasi dengan mereka.

 

Sehingga kemudian Bahasa Melayu-lah yang dipilih dan digunakan sebagai Lingua Franca dikarenakan oleh sebab yang dikatakan Usman di bukunya yang berjudul “Sejarah Bahasa Persatuan” bahwa karena Bahasa Melayu itu bersifat sederhana dan lebih demokratis.

 

  1. SEJARAH BAHASA INDONESIA

Zaman Kerajaan Hindu-Buddha

Sejumlah prasasti berbahasa Melayu Kuno dari Sriwijaya ditemukan di pesisir tenggara Pulau Sumatra. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Melayu menyebar ke berbagai tempat di Nusantara dari wilayah ini yang strategis untuk pelayaran dan perdagangan. Istilah Melayu atau sebutan bagi wilayahnya sebagai Malaya sendiri berasal dari Kerajaan Malayu yang bertempat di hulu Batang Hari.

 

Istilah Melayu atau Malayu berasal dari Kerajaan Malayu, sebuah kerajaan Hindu-Buddha pada abad ke-7 di hulu sungai Batanghari, pulau Sumatra, jadi secara geografis semula hanya mengacu kepada wilayah kerajaan tersebut yang merupakan sebagian dari wilayah pulau Sumatra.

 

Kerajaan Sriwijaya dari abad ke-7 Masehi diketahui memakai bahasa Melayu (sebagai bahasa Melayu Kuno) sebagai bahasa kenegaraan. Lima prasasti kuno yang ditemukan di Sumatra bagian selatan peninggalan kerajaan itu menggunakan bahasa Melayu yang bertaburan kata-kata pinjaman dari bahasa Sanskerta, suatu bahasa Indo-Eropa dari cabang Indo-Iran.

 

Jangkauan penggunaan bahasa ini diketahui cukup luas, karena ditemukan pula dokumen-dokumen dari abad berikutnya di Pulau Jawa dan Pulau Luzon. Kata-kata seperti samudra, istri, raja, putra, kepala, kawin, dan kaca masuk pada periode hingga abad ke-15 Masehi. Dalam perkembangannya, istilah Melayu kemudian mengalami perluasan makna, sehingga muncul istilah Kepulauan Melayu untuk menamakan kepulauan Nusantara.


 Melayu Sebagai Basantara

Kedatangan pedagang Portugis, diikuti oleh Belanda, Spanyol, dan Inggris meningkatkan informasi dan mengubah kebiasaan masyarakat pengguna bahasa Melayu. Bahasa Portugis banyak memperkaya kata-kata untuk kebiasaan Eropa dalam kehidupan sehari-hari, seperti gereja, sepatu, sabun, meja, bola, bolu, dan jendela.

 

Bahasa Belanda terutama banyak memberi pengayaan di bidang administrasi, kegiatan resmi (misalnya dalam upacara dan kemiliteran), dan teknologi hingga awal abad ke-20. Kata-kata seperti asbak, polisi, kulkas, knalpot, dan stempel adalah pinjaman dari bahasa ini.

 

Bahasa yang dipakai pendatang dari Cina juga lambat laun dipakai oleh penutur bahasa Melayu, akibat kontak di antara mereka yang mulai intensif di bawah penjajahan Belanda. Sudah dapat diduga, kata-kata Tionghoa yang masuk biasanya berkaitan dengan perniagaan dan keperluan sehari-hari, seperti pisau, tauge, tahu, loteng, teko, tauke, dan cukong.

 

Jan Huyghen van Linschoten pada abad ke-17 dan Alfred Russel Wallace pada abad ke-19 menyatakan bahwa bahasa orang Melayu atau Melaka dianggap sebagai bahasa yang paling penting di "Dunia Timur". Luasnya penggunaan bahasa Melayu ini melahirkan berbagai varian tempatan (lokal) dan temporal.

 

Bahasa perdagangan menggunakan bahasa Melayu di berbagai pelabuhan Nusantara bercampur dengan bahasa Portugis, bahasa Tionghoa, maupun bahasa setempat. Terjadi proses pemijinan di beberapa kota pelabuhan di kawasan timur Nusantara, misalnya di Manado, Ambon, dan Kupang. Orang-orang Tionghoa di Semarang dan Surabaya juga menggunakan varian bahasa Melayu pijin.

 

Terdapat pula bahasa Melayu Tionghoa di Batavia. Varian yang terakhir ini malah dipakai sebagai bahasa pengantar bagi beberapa surat kabar pertama berbahasa Melayu (sejak akhir abad ke-19). Varian-varian lokal ini secara umum dinamakan bahasa Melayu Pasar oleh para peneliti bahasa.

 

Terobosan penting terjadi ketika pada pertengahan abad ke-19 Raja Ali Haji dari istana Riau-Johor (pecahan Kesultanan Melaka) menulis kamus ekabahasa untuk bahasa Melayu. Sejak saat itu dapat dikatakan bahwa bahasa ini adalah bahasa yang full-fledged, sama tinggi dengan bahasa-bahasa internasional pada masa itu, karena memiliki kaidah dan dokumentasi kata yang terdefinisi dengan jelas.

 

Era Kolonial Belanda

Pemerintah kolonial Hindia Belanda menyadari bahwa bahasa Melayu dapat dipakai untuk membantu administrasi bagi kalangan pegawai pribumi karena penguasaan bahasa Belanda para pegawai pribumi dinilai lemah. Dengan menyandarkan diri pada bahasa Melayu Tinggi (karena telah memiliki kitab-kitab rujukan), sejumlah sarjana Belanda mulai terlibat dalam pembakuan bahasa.

 

Promosi bahasa Melayu pun dilakukan di sekolah-sekolah dan didukung dengan penerbitan karya sastra dalam bahasa Melayu. Akibat pilihan ini terbentuklah "embrio" bahasa Indonesia yang secara perlahan mulai terpisah dari bentuk semula bahasa Melayu Riau-Johor.

 

 

Pada awal abad ke-20, perpecahan dalam bentuk baku tulisan bahasa Melayu mulai terlihat. Pada tahun 1901, Indonesia (sebagai Hindia Belanda) mengadopsi ejaan Van Ophuijsen dan pada tahun 1904 Persekutuan Tanah Melayu (kelak menjadi bagian dari Malaysia) di bawah Inggris mengadopsi ejaan Wilkinson.

 

Ejaan Van Ophuijsen diawali dari penyusunan Kitab Logat Melayu (dimulai tahun 1896) van Ophuijsen, dibantu oleh Nawawi Soetan Makmoer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Intervensi pemerintah semakin kuat dengan dibentuknya Commissie voor de Volkslectuur ("Komisi Bacaan Rakyat" – KBR) pada tahun 1908. Kelak lembaga ini menjadi Balai Pustaka.

 

Pada tahun 1910, komisi ini di bawah pimpinan D.A. Rinkes, melancarkan program Taman Poestaka dengan membentuk perpustakaan kecil di berbagai sekolah pribumi dan beberapa instansi milik pemerintah. Perkembangan program ini sangat pesat, dalam dua tahun telah terbentuk sekitar 700 perpustakaan. Badan penerbit ini menerbitkan novel-novel, seperti Siti Nurbaya dan Salah Asuhan, buku-buku penuntun bercocok tanam, penuntun memelihara kesehatan, yang tidak sedikit membantu penyebaran bahasa Melayu di kalangan masyarakat luas.

 

Pada tanggal 16 Juni 1927, Jahja Datoek Kajo menggunakan bahasa Indonesia dalam pidatonya. Hal ini untuk pertama kalinya dalam sidang Volksraad, seseorang berpidato menggunakan bahasa Indonesia.

 

Kelahiran Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia mendapatkan pengakuan sebagai "bahasa persatuan bangsa" pada saat Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928 yang menghasilkan Sumpah Pemuda. Penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional berdasarkan usulan Muhammad Yamin. Dalam pidatonya pada kongres tersebut, Yamin mengatakan,

"Jika mengacu pada masa depan bahasa-bahasa yang ada di Indonesia dan kesusastraannya, hanya ada dua bahasa yang bisa diharapkan menjadi bahasa persatuan yaitu bahasa Jawa dan Melayu. Akan tetapi, dari dua bahasa itu, bahasa Melayulah yang lambat laun akan menjadi bahasa pergaulan atau bahasa persatuan."

 

Penggantian nama dari bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia mengikut usulan dari Mohammad Tabrani pada Kongres Pemuda I yang beranggapan bahwa jika tumpah darah dan bangsa tersebut dinamakan Indonesia, maka bahasanya pun harus disebut bahasa Indonesia. Kata "bahasa Indonesia" sendiri telah muncul dalam tulisan-tulisan Tabrani sebelum Sumpah Pemuda diselenggarakan. Kata "bahasa Indonesia" pertama kali muncul dalam harian Hindia Baroe pada tanggal 10 Januari 1926. Pada 11 Februari 1926 di koran yang sama, tulisan Tabrani muncul dengan judul "Bahasa Indonesia" yang membahas tentang pentingnya nama bahasa Indonesia dalam konteks perjuangan bangsa.

 

Selanjutnya, perkembangan bahasa dan kesusastraan Indonesia banyak dipengaruhi oleh sastrawan Minangkabau, seperti Marah Rusli, Abdul Muis, Nur Sutan Iskandar, Sutan Takdir Alisyahbana, Hamka, Roestam Effendi, Idrus, dan Chairil Anwar. Sastrawan tersebut banyak mengisi dan menambah perbendaharaan kata, sintaksis, maupun morfologi bahasa Indonesia. Pada tahun 1933, berdiri sebuah angkatan sastrawan muda yang menamakan dirinya sebagai Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana. Pada tahun 1936, Sutan Takdir Alisjahbana menyusun Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia.

 

Pada tanggal 25-28 Juni 1938, dilangsungkan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo. Dari hasil kongres itu, dapat disimpulkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia telah dilakukan secara sadar oleh cendekiawan dan budayawan Indonesia saat itu. Kongres Bahasa Indonesia kemudian rutin digelar lima tahunan untuk membahasa perkembangan bahasa Indonesia.

 

 

  1. SISTEM BAHASA MELAYU PRAKTIS DAN SEDERHANA

Mengapa bahasa melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia karena bahasa melayu merupakan suatu kebudayaan bagi Indonesia,selain itu juga penggunaan bahasa Indonesia sangatlah mudah ,tidak perlu mengenal tingkatan bahasa lain .

 

Selain itu juga banyak sekali kemiripan antara bahasa Indonesia dengan bahasa melayu,mulai dari pengartiannya dan bahasanya. Mungkin hanya secara penyampaiannya yang berbeda. Bahasa melayu mempunyai peranan yang sangat penting di berbagai bidang atau kegiatan di Indonesia pada masa lalu.

  

Bahasa melayu berkembang berdasarkan interaksi dengan lingkungan sosial yang bersinggungan antar ruang dan waktu, yang mana terjadi suatu hal yang sedang mempengaruhi penggunaan bahasa. Historis tersebut dapat dilihat dari asal usul bahasa yang merupakan awal komunikasi antar orang yang menggunakan bahasa isyarat ke kata-kata yang semakin komunikatif.

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi diambilnya bahasa melayu menjadi bahasa Indonesia :

  1. Bahasa melayu adalah bahasa sederhana. Komunikatif, dijadikan bahasa yang menjadi ciri khas bagi perdagangan dan pelayanan di pelabuhan Indonesia maupun di negara-negara luar Indonesia.
  2. Bahasa melayu tidak mempunyai tingkatan-tingkatan bahasa seperti yang dimiliki oleh bahasa lain.
  3. Bahasa melayu dijadikan bahasa kebudayaan.

 

 

  1. KEBUTUHAN POLITIK

Bahasa memiliki peranan penting dalam kehidupan sehari-hari, selain tentunya sebagai alat komunikasi, bahasa juga merupakan identitas budaya suatu bangsa yang menandakan kekayaan bangsa tersebut.

 

Disamping fungsi tersebut diatas, bahasa juga memiliki peranan dalam bidang politik. Mari kita kembali mengingat pembelajaran sejarah pada masa kolonialisme. Mengapa pada saat penjajahan Belanda, masyarakat Indonesia harus mempelajari bahasa mereka?. Dan mengapa ketika kekuasaan pindah ke tangan pemerintah Jepang, masyarakat Indonesia dilarang menggunakan bahasa Belanda dan harus mempelajari bahasa Jepang?.

 

Bahkan disetiap sekolah, bahasa Jepang merupakan pelajaran yang wajib diajarkan. Tentunya ada alasan lain selain untuk dapat berkomunikasi dengan pribumi. Alasan yang paling kuat adalah budaya dan politik. Negara penjajah ingin mematikan kebudayaan Indonesia melalui bahasa dan menjadikannya negara persemakmuran mereka.

 

Atau ketika pencetusan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi Republik Indonesia. Mengapa pada saat itu Bung Karno memutuskan untuk menjadikan bahasa Indonesia, yang notabenenya mirip dengan bahasa melayu Malaysia sebagai bahasa resmi? Jika kita cermat lebih lanjut, mayoritas penduduk Indonesia tersebar di Pulau Jawa.

 

Bukankah akan lebih mudah jika bahasa nasional diambil dari bahasa daerah di Pulau Jawa? Pertimbangannya adalah, suku bangsa terbanyak di Indonesia adalah Sunda dan Jawa. Akan sulit memilih salah satu dari kedua bahasa tersebut untuk dijadikan bahasa nasional, karena tentu saja ego golongan, dalam artian sukuisme, akan mempengaruhi. Untuk itulah presiden pertama kita dengan netral memilih bahasa Indonesia dari rumpun melayu sebagai jembatannya.

 

Dari contoh-contoh diatas dapat diketahui bukan bahwa pegaruh bahasa sangatlah besar. Kita tidak dapat memandang remeh pembelajaran bahasa, karena bahasa bukanlah sekedar alat komunikasi, efek bahasa itu sendiri amat besat dalam kehidupan sosial dan politik, bukan hanya di dalam negeri, tapi juga mempengaruhi politik internasional.

 

 

  1. FAKTOR PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA            

Secara rinci dapat diidentifikasi sejumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa, yaitu sebagai berikut:

  1. Kesehatan

Anak yang sehat lebih cepat belajar berbicara ketimbang anak yang tidak sehat, karena motivasinya lebih kuat untuk menjadi anggota kelompok social dan berkomunikasi dengan anggota kelompok tersebut.

  1. Kecerdasan

Anak yang memiliki kecerdasan tinggi, belajar berbicaranya lebih cepat dan memperlihatkan penguasaan bahasa yang lebih unggul ketimbang anaj yang tingkat kecerdasannya rendah.

  1. Keadaan Sosial Ekonomi

Anak dari kelompok yang keadaan social ekonominya tinggi akan lebih mudah belajar berbicara, mengungkapkan dirinya lebih baik, dan lebih banyak berbicara ketimbang anak dari kelompok yang keadaan social ekonominya lebih rendah. Penyebab utamanya adalah bahwa anak dari kelompok lebih tinggi lebih banyak didorong untuk lebih berbicara dan lebih banyak dibimbing utnuk melakukannya.

  1. Jenis Kelamin

Dibandingkan dengan anak perempuan, anak laki-laki tertinggal dalam belajar berbicara. Pada setiap jenjang umur, kalimat anak lelaki lebih pendek dan kurang betul tata bahasanya, kosakata yang diucapkan lebih sedikit, dan pengucapannya kurang tepat ketimbang anak perempuan.

  1. Keinginan berkomunikasi

Semakin kuat keinginan utnuk berkomunikasi dengan orang lain, semakin kuat motivasi anak untuk belajar berbicara, dan semakin bersedia menyisihkan waktu dan usaha yang diperlukan utnuk belajar.

  1. Dorongan / Motivasi

Semakin banyak anak di dorong utnuk berbiacara dengan mengajaknya bicara, dan didorong menanggapinya, akan semakin unggul mereka dalam berbicara dan semakin baik kualitas bicaranya.

  1. Ukuran Keluarga

Anak tunggal atau anak dari keluarga kecil biasanya berbicara lebih awal dan lebih baik ketimbang dari keluarga besar karena orang tua dapat menyisihkan waktu yang lebih banyak untuk mengajak anaknya berbicara.

  1. Urutan kelahiran

Dalam keluarga yang sama, anak pertama lebih unggul ketimbang anak yang lahir kemudian. Ini karena orang tua dapat menyisihkan waktunya lebih banyak untuk mengajar dan mendorong anak yang lahir pertama dalam belajar berbicara disbanding anak yang lahir kemudian.

  1. Metode Pelatihan Anak

Anak-anak yang dilatih secara otoriter yang menekankan bahwa “anak harus dilihat dan bukan didengar” merupakan hambatan belajar, sedang pelatihan yang memberikan keleluasaan dan demokratis akan mendorong anak untuk belajar.

  1. Kelahiran kembar

Anak yang lahir kembar umumnya terlambat dalam perkembangan bicaranya terutama karena mereka lebih banyak bergaul dengan saudara kembarnya dan hanya memahami logat khusus yang mereka miliki.

  1. Hubungan dengan teman sebaya

Semakin banyak hubungan anak dengan teman sebayanya dan semakin besar keinginan mereka untuk diterima sebagai anggota kelompok sebaya, akan semakin kuat motivasi mereka untuk belajar berbicara.

  1. Kepribadian

Anak yang dapat menyesuaikan diri dengan baik cenderung kemampuan berbicaranya lebih baik, baik secara kuantitatif, maupun secara kualitatif, dibandingkan anak yang penyesuaian dirinya jelek. Kenyataanya, bicara seringkali dipandang sebagai salah satu petunjuk anak yang sehat mental.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Sering Mengantuk padahal Tidur Cukup?

Bekasi - Tidur merupakan sebuah kebutuhan setiap orang. Tak ada yang lebih baik untuk mengatasi rasa kantuk selain tidur. Sayangnya, ada beberapa orang yang masih merasa lelah dan mengantuk meski sudah cukup tidur.  Badan Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan waktu tidur harus mencapai 7-9 jam per malam. Kurang tidur dan kebanyakan tidur sama-sama dapat mengganggu kesehatan tubuh. Kebanyakan tidur, dengan lebih dari 12 jam per hari, mengganggu ritme sirkadian tubuh sehingga mengacaukan jam tubuh. Rasa kantuk atau lelah setelah beraktivitas seharian sebenarnya wajar dirasakan oleh siapa saja. Apabila rasa kantuk tersebut tetap dirasakan meski sudah cukup istirahat, bisa jadi ada sesuatu yang salah dengan tubuh anda.  Ada pun beberapa hal yang dapat mendasari penyebab sering mengantuk, yaitu seperti berikut ini. Kondisi medis tertentu. Peristiwa dalam hidup yang menyangkut keluarga dan pekerjaan. Kejadian apapun yang dapat memicu rasa lelah berlebihan, seperti...