- BAHASA
MELAYU SEBAGAI LINGUA FRANCA
Mengapa dari semua bahasa
di Kepulauan Indonesia-Malaysia, bahasa Melayu yang terangkat kedudukannya
sebagai Lingua Franca?
Adapun timbulnya
kebutuhan suatu Lingua Franca bagi suatu daerah, yang dikaruniai (atau dibebani)
dengan begitu banyak bahasa, bukanlah hal yang mengherankan, khususnya karena
kontak antara para penutur bahasa-bahasa ini dan bahasa-bahasa lain menjadi
lebih sering, bersamaan dengan berkembangnya perdagangan antar pulau dan
perdagangan luar negeri.
Bahasa Melayu mengisi
peran tersebut adalah karena lokasinya yang strategis di kedua tepian pantai
Selat Malaka, suatu daerah perairan sempit tempat perdagangan laut awal antara
India dan Cina terpaksa berlalu-lalang, dan yang menyediakan suatu titik perhentian
yang tepat untuk berlindung dari badai musiman atau untuk mengambil air dan
makanan segar.
Selama menanti selesainya
pengisian bekal tersebut, para pedagang (bangsa India, Cina, dan kemudian juga
bangsa Arab) haruslah bergantung pada perdagangan dengan penduduk yang
berbahasa Melayu untuk mencari bekal dan tentu saja memerlukan sarana untuk
berkomunikasi dengan mereka.
Sehingga kemudian Bahasa
Melayu-lah yang dipilih dan digunakan sebagai Lingua Franca dikarenakan oleh
sebab yang dikatakan Usman di bukunya yang berjudul “Sejarah Bahasa Persatuan”
bahwa karena Bahasa Melayu itu bersifat sederhana dan lebih demokratis.
- SEJARAH
BAHASA INDONESIA
Zaman
Kerajaan Hindu-Buddha
Sejumlah prasasti
berbahasa Melayu Kuno dari Sriwijaya ditemukan di pesisir tenggara Pulau
Sumatra. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Melayu menyebar ke berbagai tempat di
Nusantara dari wilayah ini yang strategis untuk pelayaran dan perdagangan.
Istilah Melayu atau sebutan bagi wilayahnya sebagai Malaya sendiri berasal dari
Kerajaan Malayu yang bertempat di hulu Batang Hari.
Istilah Melayu atau
Malayu berasal dari Kerajaan Malayu, sebuah kerajaan Hindu-Buddha pada abad
ke-7 di hulu sungai Batanghari, pulau Sumatra, jadi secara geografis semula
hanya mengacu kepada wilayah kerajaan tersebut yang merupakan sebagian dari
wilayah pulau Sumatra.
Kerajaan Sriwijaya dari
abad ke-7 Masehi diketahui memakai bahasa Melayu (sebagai bahasa Melayu Kuno)
sebagai bahasa kenegaraan. Lima prasasti kuno yang ditemukan di Sumatra bagian
selatan peninggalan kerajaan itu menggunakan bahasa Melayu yang bertaburan
kata-kata pinjaman dari bahasa Sanskerta, suatu bahasa Indo-Eropa dari cabang
Indo-Iran.
Jangkauan penggunaan
bahasa ini diketahui cukup luas, karena ditemukan pula dokumen-dokumen dari abad
berikutnya di Pulau Jawa dan Pulau Luzon. Kata-kata seperti samudra, istri,
raja, putra, kepala, kawin, dan kaca masuk pada periode hingga abad ke-15
Masehi. Dalam perkembangannya, istilah Melayu kemudian mengalami perluasan
makna, sehingga muncul istilah Kepulauan Melayu untuk menamakan kepulauan
Nusantara.
Melayu Sebagai Basantara
Kedatangan pedagang
Portugis, diikuti oleh Belanda, Spanyol, dan Inggris meningkatkan informasi dan
mengubah kebiasaan masyarakat pengguna bahasa Melayu. Bahasa Portugis banyak
memperkaya kata-kata untuk kebiasaan Eropa dalam kehidupan sehari-hari, seperti
gereja, sepatu, sabun, meja, bola, bolu, dan jendela.
Bahasa Belanda terutama
banyak memberi pengayaan di bidang administrasi, kegiatan resmi (misalnya dalam
upacara dan kemiliteran), dan teknologi hingga awal abad ke-20. Kata-kata
seperti asbak, polisi, kulkas, knalpot, dan stempel adalah pinjaman dari bahasa
ini.
Bahasa yang dipakai
pendatang dari Cina juga lambat laun dipakai oleh penutur bahasa Melayu, akibat
kontak di antara mereka yang mulai intensif di bawah penjajahan Belanda. Sudah
dapat diduga, kata-kata Tionghoa yang masuk biasanya berkaitan dengan
perniagaan dan keperluan sehari-hari, seperti pisau, tauge, tahu, loteng, teko,
tauke, dan cukong.
Jan Huyghen van
Linschoten pada abad ke-17 dan Alfred Russel Wallace pada abad ke-19 menyatakan
bahwa bahasa orang Melayu atau Melaka dianggap sebagai bahasa yang paling
penting di "Dunia Timur". Luasnya penggunaan bahasa Melayu ini
melahirkan berbagai varian tempatan (lokal) dan temporal.
Bahasa perdagangan
menggunakan bahasa Melayu di berbagai pelabuhan Nusantara bercampur dengan
bahasa Portugis, bahasa Tionghoa, maupun bahasa setempat. Terjadi proses
pemijinan di beberapa kota pelabuhan di kawasan timur Nusantara, misalnya di
Manado, Ambon, dan Kupang. Orang-orang Tionghoa di Semarang dan Surabaya juga
menggunakan varian bahasa Melayu pijin.
Terdapat pula bahasa
Melayu Tionghoa di Batavia. Varian yang terakhir ini malah dipakai sebagai
bahasa pengantar bagi beberapa surat kabar pertama berbahasa Melayu (sejak
akhir abad ke-19). Varian-varian lokal ini secara umum dinamakan bahasa Melayu
Pasar oleh para peneliti bahasa.
Terobosan penting terjadi
ketika pada pertengahan abad ke-19 Raja Ali Haji dari istana Riau-Johor
(pecahan Kesultanan Melaka) menulis kamus ekabahasa untuk bahasa Melayu. Sejak
saat itu dapat dikatakan bahwa bahasa ini adalah bahasa yang full-fledged, sama
tinggi dengan bahasa-bahasa internasional pada masa itu, karena memiliki kaidah
dan dokumentasi kata yang terdefinisi dengan jelas.
Era Kolonial Belanda
Pemerintah kolonial
Hindia Belanda menyadari bahwa bahasa Melayu dapat dipakai untuk membantu
administrasi bagi kalangan pegawai pribumi karena penguasaan bahasa Belanda
para pegawai pribumi dinilai lemah. Dengan menyandarkan diri pada bahasa Melayu
Tinggi (karena telah memiliki kitab-kitab rujukan), sejumlah sarjana Belanda
mulai terlibat dalam pembakuan bahasa.
Promosi bahasa Melayu pun
dilakukan di sekolah-sekolah dan didukung dengan penerbitan karya sastra dalam
bahasa Melayu. Akibat pilihan ini terbentuklah "embrio" bahasa
Indonesia yang secara perlahan mulai terpisah dari bentuk semula bahasa Melayu
Riau-Johor.
Pada awal abad ke-20,
perpecahan dalam bentuk baku tulisan bahasa Melayu mulai terlihat. Pada tahun
1901, Indonesia (sebagai Hindia Belanda) mengadopsi ejaan Van Ophuijsen dan
pada tahun 1904 Persekutuan Tanah Melayu (kelak menjadi bagian dari Malaysia)
di bawah Inggris mengadopsi ejaan Wilkinson.
Ejaan Van Ophuijsen
diawali dari penyusunan Kitab Logat Melayu (dimulai tahun 1896) van Ophuijsen,
dibantu oleh Nawawi Soetan Makmoer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Intervensi
pemerintah semakin kuat dengan dibentuknya Commissie voor de Volkslectuur
("Komisi Bacaan Rakyat" – KBR) pada tahun 1908. Kelak lembaga ini
menjadi Balai Pustaka.
Pada tahun 1910, komisi
ini di bawah pimpinan D.A. Rinkes, melancarkan program Taman Poestaka dengan
membentuk perpustakaan kecil di berbagai sekolah pribumi dan beberapa instansi
milik pemerintah. Perkembangan program ini sangat pesat, dalam dua tahun telah
terbentuk sekitar 700 perpustakaan. Badan penerbit ini menerbitkan novel-novel,
seperti Siti Nurbaya dan Salah Asuhan, buku-buku penuntun bercocok tanam,
penuntun memelihara kesehatan, yang tidak sedikit membantu penyebaran bahasa
Melayu di kalangan masyarakat luas.
Pada tanggal 16 Juni
1927, Jahja Datoek Kajo menggunakan bahasa Indonesia dalam pidatonya. Hal ini
untuk pertama kalinya dalam sidang Volksraad, seseorang berpidato menggunakan
bahasa Indonesia.
Kelahiran
Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia
mendapatkan pengakuan sebagai "bahasa persatuan bangsa" pada saat
Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928 yang menghasilkan Sumpah Pemuda.
Penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional berdasarkan usulan Muhammad
Yamin. Dalam pidatonya pada kongres tersebut, Yamin mengatakan,
"Jika mengacu pada masa depan bahasa-bahasa
yang ada di Indonesia dan kesusastraannya, hanya ada dua bahasa yang bisa
diharapkan menjadi bahasa persatuan yaitu bahasa Jawa dan Melayu. Akan tetapi,
dari dua bahasa itu, bahasa Melayulah yang lambat laun akan menjadi bahasa
pergaulan atau bahasa persatuan."
Penggantian nama dari
bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia mengikut usulan dari Mohammad Tabrani
pada Kongres Pemuda I yang beranggapan bahwa jika tumpah darah dan bangsa
tersebut dinamakan Indonesia, maka bahasanya pun harus disebut bahasa
Indonesia. Kata "bahasa Indonesia" sendiri telah muncul dalam
tulisan-tulisan Tabrani sebelum Sumpah Pemuda diselenggarakan. Kata "bahasa
Indonesia" pertama kali muncul dalam harian Hindia Baroe pada tanggal 10
Januari 1926. Pada 11 Februari 1926 di koran yang sama, tulisan Tabrani muncul
dengan judul "Bahasa Indonesia" yang membahas tentang pentingnya nama
bahasa Indonesia dalam konteks perjuangan bangsa.
Selanjutnya, perkembangan
bahasa dan kesusastraan Indonesia banyak dipengaruhi oleh sastrawan
Minangkabau, seperti Marah Rusli, Abdul Muis, Nur Sutan Iskandar, Sutan Takdir
Alisyahbana, Hamka, Roestam Effendi, Idrus, dan Chairil Anwar. Sastrawan
tersebut banyak mengisi dan menambah perbendaharaan kata, sintaksis, maupun
morfologi bahasa Indonesia. Pada tahun 1933, berdiri sebuah angkatan sastrawan
muda yang menamakan dirinya sebagai Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan
Takdir Alisjahbana. Pada tahun 1936, Sutan Takdir Alisjahbana menyusun Tata
Bahasa Baru Bahasa Indonesia.
Pada tanggal 25-28 Juni
1938, dilangsungkan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo. Dari hasil kongres itu,
dapat disimpulkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia telah
dilakukan secara sadar oleh cendekiawan dan budayawan Indonesia saat itu.
Kongres Bahasa Indonesia kemudian rutin digelar lima tahunan untuk membahasa
perkembangan bahasa Indonesia.
- SISTEM
BAHASA MELAYU PRAKTIS DAN SEDERHANA
Mengapa bahasa melayu
diangkat menjadi bahasa Indonesia karena bahasa melayu merupakan suatu
kebudayaan bagi Indonesia,selain itu juga penggunaan bahasa Indonesia sangatlah
mudah ,tidak perlu mengenal tingkatan bahasa lain .
Selain itu juga banyak
sekali kemiripan antara bahasa Indonesia dengan bahasa melayu,mulai dari
pengartiannya dan bahasanya. Mungkin hanya secara penyampaiannya yang berbeda. Bahasa
melayu mempunyai peranan yang sangat penting di berbagai bidang atau kegiatan
di Indonesia pada masa lalu.
Bahasa melayu berkembang
berdasarkan interaksi dengan lingkungan sosial yang bersinggungan antar ruang
dan waktu, yang mana terjadi suatu hal yang sedang mempengaruhi penggunaan
bahasa. Historis tersebut dapat dilihat dari asal usul bahasa yang merupakan awal
komunikasi antar orang yang menggunakan bahasa isyarat ke kata-kata yang
semakin komunikatif.
Faktor-faktor yang
mempengaruhi diambilnya bahasa melayu menjadi bahasa Indonesia :
- Bahasa melayu
adalah bahasa sederhana. Komunikatif, dijadikan bahasa yang menjadi ciri
khas bagi perdagangan dan pelayanan di pelabuhan Indonesia maupun di
negara-negara luar Indonesia.
- Bahasa melayu
tidak mempunyai tingkatan-tingkatan bahasa seperti yang dimiliki oleh
bahasa lain.
- Bahasa melayu
dijadikan bahasa kebudayaan.
- KEBUTUHAN
POLITIK
Bahasa memiliki peranan
penting dalam kehidupan sehari-hari, selain tentunya sebagai alat komunikasi,
bahasa juga merupakan identitas budaya suatu bangsa yang menandakan kekayaan
bangsa tersebut.
Disamping fungsi tersebut
diatas, bahasa juga memiliki peranan dalam bidang politik. Mari kita kembali
mengingat pembelajaran sejarah pada masa kolonialisme. Mengapa pada saat
penjajahan Belanda, masyarakat Indonesia harus mempelajari bahasa mereka?. Dan
mengapa ketika kekuasaan pindah ke tangan pemerintah Jepang, masyarakat
Indonesia dilarang menggunakan bahasa Belanda dan harus mempelajari bahasa
Jepang?.
Bahkan disetiap sekolah,
bahasa Jepang merupakan pelajaran yang wajib diajarkan. Tentunya ada alasan
lain selain untuk dapat berkomunikasi dengan pribumi. Alasan yang paling kuat
adalah budaya dan politik. Negara penjajah ingin mematikan kebudayaan Indonesia
melalui bahasa dan menjadikannya negara persemakmuran mereka.
Atau ketika pencetusan
bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi Republik Indonesia. Mengapa pada saat itu
Bung Karno memutuskan untuk menjadikan bahasa Indonesia, yang notabenenya mirip
dengan bahasa melayu Malaysia sebagai bahasa resmi? Jika kita cermat lebih
lanjut, mayoritas penduduk Indonesia tersebar di Pulau Jawa.
Bukankah akan lebih mudah
jika bahasa nasional diambil dari bahasa daerah di Pulau Jawa? Pertimbangannya
adalah, suku bangsa terbanyak di Indonesia adalah Sunda dan Jawa. Akan sulit
memilih salah satu dari kedua bahasa tersebut untuk dijadikan bahasa nasional,
karena tentu saja ego golongan, dalam artian sukuisme, akan mempengaruhi. Untuk
itulah presiden pertama kita dengan netral memilih bahasa Indonesia dari rumpun
melayu sebagai jembatannya.
Dari contoh-contoh diatas
dapat diketahui bukan bahwa pegaruh bahasa sangatlah besar. Kita tidak dapat
memandang remeh pembelajaran bahasa, karena bahasa bukanlah sekedar alat
komunikasi, efek bahasa itu sendiri amat besat dalam kehidupan sosial dan
politik, bukan hanya di dalam negeri, tapi juga mempengaruhi politik internasional.
- FAKTOR
PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA
Secara rinci dapat
diidentifikasi sejumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa, yaitu
sebagai berikut:
- Kesehatan
Anak yang sehat lebih
cepat belajar berbicara ketimbang anak yang tidak sehat, karena motivasinya
lebih kuat untuk menjadi anggota kelompok social dan berkomunikasi dengan
anggota kelompok tersebut.
- Kecerdasan
Anak yang memiliki
kecerdasan tinggi, belajar berbicaranya lebih cepat dan memperlihatkan
penguasaan bahasa yang lebih unggul ketimbang anaj yang tingkat kecerdasannya
rendah.
- Keadaan
Sosial Ekonomi
Anak dari kelompok yang
keadaan social ekonominya tinggi akan lebih mudah belajar berbicara,
mengungkapkan dirinya lebih baik, dan lebih banyak berbicara ketimbang anak
dari kelompok yang keadaan social ekonominya lebih rendah. Penyebab utamanya
adalah bahwa anak dari kelompok lebih tinggi lebih banyak didorong untuk lebih
berbicara dan lebih banyak dibimbing utnuk melakukannya.
- Jenis Kelamin
Dibandingkan dengan anak
perempuan, anak laki-laki tertinggal dalam belajar berbicara. Pada setiap
jenjang umur, kalimat anak lelaki lebih pendek dan kurang betul tata bahasanya,
kosakata yang diucapkan lebih sedikit, dan pengucapannya kurang tepat ketimbang
anak perempuan.
- Keinginan
berkomunikasi
Semakin kuat keinginan
utnuk berkomunikasi dengan orang lain, semakin kuat motivasi anak untuk belajar
berbicara, dan semakin bersedia menyisihkan waktu dan usaha yang diperlukan
utnuk belajar.
- Dorongan /
Motivasi
Semakin banyak anak di
dorong utnuk berbiacara dengan mengajaknya bicara, dan didorong menanggapinya,
akan semakin unggul mereka dalam berbicara dan semakin baik kualitas bicaranya.
- Ukuran
Keluarga
Anak tunggal atau anak
dari keluarga kecil biasanya berbicara lebih awal dan lebih baik ketimbang dari
keluarga besar karena orang tua dapat menyisihkan waktu yang lebih banyak untuk
mengajak anaknya berbicara.
- Urutan
kelahiran
Dalam keluarga yang sama,
anak pertama lebih unggul ketimbang anak yang lahir kemudian. Ini karena orang
tua dapat menyisihkan waktunya lebih banyak untuk mengajar dan mendorong anak
yang lahir pertama dalam belajar berbicara disbanding anak yang lahir kemudian.
- Metode
Pelatihan Anak
Anak-anak yang dilatih
secara otoriter yang menekankan bahwa “anak harus dilihat dan bukan didengar”
merupakan hambatan belajar, sedang pelatihan yang memberikan keleluasaan dan
demokratis akan mendorong anak untuk belajar.
- Kelahiran
kembar
Anak yang lahir kembar umumnya terlambat dalam perkembangan bicaranya terutama karena mereka lebih banyak bergaul dengan saudara kembarnya dan hanya memahami logat khusus yang mereka miliki.
- Hubungan
dengan teman sebaya
Semakin banyak hubungan
anak dengan teman sebayanya dan semakin besar keinginan mereka untuk diterima
sebagai anggota kelompok sebaya, akan semakin kuat motivasi mereka untuk
belajar berbicara.
- Kepribadian
Anak yang dapat
menyesuaikan diri dengan baik cenderung kemampuan berbicaranya lebih baik, baik
secara kuantitatif, maupun secara kualitatif, dibandingkan anak yang
penyesuaian dirinya jelek. Kenyataanya, bicara seringkali dipandang sebagai
salah satu petunjuk anak yang sehat mental.

Komentar
Posting Komentar